Teknologi dan kemajuan industri Logistik Indonesia di 2021

Teknologi dan kemajuan industri Logistik Indonesia di 2021

14 Desember 2020

Terralogiq dan Google mengadakan webinar pada tanggal 24 November 2020, dengan pemateri dalam sesi webinar ini adalah Zaldy Ilham Masita dari Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Nicola Dalmazzo dari Google dan Farry Argoebie dari Terralogiq. Tema yang diusung membahas bagaimana perkembangan logistik Indonesia dan tantangan yang akan dihadapi oleh industri saat dan pasca pandemik Covid-19. Khususnya membahas pemanfaatan teknologi digital dalam menjawab tantangan industri logistik di tahun 2021. Jika melihat kebelakang, secara umum performa logistik di Indonesia tidak sebaik negara lain di Asia. Proses konvensional dan manual masih banyak diterapkan oleh industri. Kita bisa mengambil contoh sebagian perusahaan logistik masih menangani transaksi melalui telepon dan tidak secara online, serta pelacakan resi atau kertas dalam bukti fisik. Selain itu tantangan terbesar di industri logistik Indonesia adalah alamat yang tidak akurat.

Data Ken Research pada Indonesia Logistics and Warehousing Market by Sector (2018) menuturkan sebagai negara terpadat keempat di dunia dengan prospek pertumbuhan dan potensi pasar yang kuat, Indonesia merupakan magnet bagi investor global. Indonesia memiliki ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan kontribusi sektor jasa yang besar. Dengan populasi lebih dari 267 juta yang tersebar di 17.500 pulau, sektor logistik di Indonesia sangat penting dalam menghubungkan masyarakat dan bisnis. Hal ini menghasilkan peluang inovasi dan layanan baru di sektor logistik untuk memenuhi kebutuhan pasar. Pendapatan pasar logistik Indonesia diperkirakan mencapai USD 240 miliar pada tahun 2021.

Manfaat penerapan teknologi

Manfaat transformasi digital logistik diharapkan dapat menekan biaya logistik Indonesia yang saat ini mencapai sekitar 24% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Penurunan biaya logistik ditargetkan sebesar 13,5% dari PDB sektor logistik. Dengan turunnya biaya logistik diharapkan daya saing juga meningkat. Penuturan Nicola Dalmazzo Selaku Head of Channel Sales Google Maps ASEAN menambahkan “Negara di Asia Tenggara perlu bersiap dalam evolusi logistik yang akan terjadi. Indonesia terutama perlu sigap akan hal ini, data lokasi menjadi hal yang sangat penting, banyak data di dunia sudah semakin berkembang dan data lokasi menciptakan nilai baru bagi perusahaan.”  

Zaldy Ilham Masita selaku Chairman Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) mengungkapkan logistik termasuk salah satu industri yang pertumbuhannya selalu di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Logistik menjadi salah satu industri yang berkontribusi positif selama 10 tahun terakhir dengan kisaran pertumbuhan 1-10% per tahun. Akan tetapi selama masa pandemik kondisi industri logistik sangat terdampak, dilansir dari Biro Pusat Statistik tahun 2020 Industri logistik B2B pada Q2 2020 mengalami penurunan hingga 30,84%.

Jadi meskipun trend e-commerce sedang menarik ketika pandemik, tetapi untuk industri logistik Indonesia masih membutuhkan segmen pasar B2B yang sedang terpuruk, namun tidak dapat ditunjang oleh bisnis serta sektor lain yang juga mengalami penurunan. “Kondisi ini berbanding lurus dan akhirnya industri logistik di Indonesia menjadi ikut terpuruk, tapi terdapat beberapa perusahaan logistik yang dapat survive bahkan mencapai growth dengan menerapkan dua cara. Pertama mereka melakukan pivot terhadap perusahaan dan operasional bisnis mereka. Lalu yang kedua adalah mereka yang melakukan investasi yang besar pada teknologi dan mengerjakan PR [red: pekerjaan rumah].” ungkap Zaldy Masita.

Industri logistik Indonesia Digital Evolution - Terralogiq - Asosiasi Logistik Indonesia
Sumber: #TerraTalks Webinar, Digital Platforms: The Future of Indonesian Logistics 2021, 24/11/2020.

Revolusi digital yang perlu diperhatikan untuk penerapan dan perkembangannya di Indonesia adalah:  

Pertama, internet akses atau penggunaan dan pengkonsumsian internet yang cukup signifikan. 47,6% penduduk Indonesia menggunakan smartphone menurut data dari Statista. 

Kedua, revolusi digital dari sisi payment atau e-wallet, sekarang jumlah uang kertas yang beredar sudah tidak begitu banyak dan kebanyakan masyarakat Indonesia sudah mempergunakan dan mengadaptasi e-wallet di smartphone. 

Ketiga, aspek atau pilar yang lain dari sisi logistik adalah e-commerce, yaitu logistik dari sisi fisik tetap mengantarkan barang, jadi tidak ada perubahan dari sisi bentuk, tetapi tidak seperti uang cash bisa menjadi e-money

Secara umum industri logistik Indonesia terdampak juga dari maraknya bisnis online saat ini, namun tidak bisa berubah secara cepat seperti industri payment. Farry Argoebie selaku CTO Terralogiq menuturkan “terdapat opportunity yang baru ditahun ini dan mendatang, satu dari tiga pengguna digital service online muncul karena pandemik, jadi terdapat pergeseran dan akselerasi market disertai konsumsi secara digital yang sangat besar.” 

Kunci dari digitalisasi logistik di Indonesia terdapat pada peta. Peta digunakan industri logistik dari dulu tapi masih menggunakan bentuk satu dimensi (1D) atau menulis alamat saja. Seiring  waktu peta menjadi dua dimensi (2D) lalu berkembang lagi menjadi tiga dimensi (3D) seperti sekarang ini. Perkembangan peta ini terutama didukung dengan pemanfaatan dan penggunaan teknologi Google Maps. Kesulitan yang sering dihadapi adalah alamat atau lokasi di Indonesia tidak terstandar seperti negara-negara lain. Maka dari itu diperlukan transformasi digital, teknologi pendukung yang esential untuk hal tersebut. Terutama untuk melakukan routing industri logistik, Indonesia perlu memperhatikan bahwa perkembangan teknologi Maps sangat dibutuhkan untuk mengoptimalisasi routing, dan membantu untuk mempercepat pengiriman barang. 

Tantangan yang dihadapi industri logistik Indonesia

Challenge untuk digitalisasi industri logistik di Indonesia adalah pertama data di Indonesia masih kurang terstandarisasi jika dihadapkan pada proses transparansi dengan digital masih terdapat banyak conflict of interest. Terhadap perubahan hal tersebut, transformasi digital akan berjalan jika didukung 100% oleh top management sampai dengan level bawahnya. Poin mengenai regulasi dan kekurangan teknologi, dapat diatasi melalui kerjasama dengan  partner yang dapat menyesuaikan dan mengerti business process, agar bisa membantu tanpa perlu mendevelop talent-talent baru secara internal. Farry Argoebie menambahkan “local partner dan local support bisa membantu dalam development atau aplikasi yang membutuhkan optimasi. Disinilah peranan Terralogiq sebagai Google Maps Premier Partner yang bisa membantu membuat dan mengembangkan location intelligence platform untuk mendorong hal tersebut.”

Baca juga : Optimasi bisnis bersama Terralogiq – Google Maps Premier Partner

Investasi di bidang IT

Pada 2021, Melakukan investasi di bidang IT teknologi adalah suatu keharusan untuk memudahkan industri agar cepat beradaptasi dengan permintaan market. Zaldy Ilham Masita dari Asosiasi Logistik Indonesia menambahkan “Dapat dirasakan ketika proses masih manual perubahan akan sangat sulit, berbeda jika sudah memiliki sistem kita dapat berubah dengan cepat. Perubahan volume bahkan bisa terjadi kapan saja, maka dibutuhkan sistem yang dapat mendukung untuk memperkirakan jika terjadinya lonjakan. Lalu kolaborasi dapat mempermudah terjadinya integrasi, apalagi jika level teknologinya memiliki tingkat yang sama. Jadi dapat saling mengintegrasikan satu sama lain.” Merupakan sebuah kesempatan untuk perusahaan logistik yang sudah memiliki sistem yang baik. Saling berkaitan juga, di tahun 2021 growth nya akan sama besar dengan tahun 2019 bahkan bisa melebihi. Karena di tahun ini terjadi juga filtering, mana perusahaan yang bisa survive dan mana yang akan tersisih di tahun mendatang, pungkas Zaldy Ilham Masita selaku Chairman Asosiasi Logistik Indonesia.

Transformasi digital akan menjawab banyak tantangan pasar logistik di tahun 2021. Teknologi dapat lebih membantu perusahaan dalam melakukan efisiensi, otomatisasi, dan penerapan digitalisasi. Penerapan teknologi serta transformasi digital juga dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja logistik Indonesia yang saat ini masih di bawah negara Asia lainnya seperti Thailand, Vietnam, India, dan China.

Karenanya, kolaborasi menjadi sangat penting dimana industri logistik perlu lebih terbuka dan berbenah, mereformasi strukturnya, mengembangkan strategi baru, serta mengadopsi teknologi modern.

Share this post on

Related Article

Leave a Reply

Name

Email

Comments