Studi Kasus Google for Education: Bagaimana Sekolah membantu siswanya mengatasi kesulitan belajar menggunakan Google for Education

31 Mei 2022

Mari dengarkan berbagai cerita yang berpengaruh pada organisasi dan individu di seluruh dunia dalam program solusi pendidikan bersama Google. Ya salah satu studi kasus Google for Education kali ini akan membahas beberapa sekolah yang berangkat jauh ke Amerika dimana salah satu sekolah SD disana hingga salah satu SMP swasta di Indonesia yang juga menggunakan solusi dan produk dari Google for Education.

Studi kasus Google for Education

Berikut beberapa studi kasus Google for Education yang dikutip dari laman Google for Education. Mari kita ulas satu persatu di sini.

Carroll School – USA

Logo carroll school

Carroll School terletak di Lincoln dan Waltham, Massachusetts, dan didirikan pada tahun 1967 oleh sekelompok ahli saraf yang ingin membantu anak-anak penyandang disabilitas berbasis bahasa, seperti disleksia, agar berhasil dan berkembang dalam lingkungan belajar. Saat ini, dengan lebih dari 400 siswa, 150 guru, dan 50 anggota staf, Carroll School didedikasikan untuk memberdayakan siswa agar menjadi pembelajar sepanjang hayat yang percaya diri.

Margaret Kuzmicz, Direktur Teknologi di Carroll School, menginginkan teknologi yang memotivasi siswanya untuk belajar, bukan mematahkan semangat mereka.

Margaret Kuzmicz, Director of Technology di Carroll School, menginginkan teknologi yang menginspirasi para siswa untuk belajar, bukan membuat patah semangat. Sayangnya, perangkat Windows yang dimiliki sekolah pada saat itu kaku, lambat, dan sulit digunakan oleh para siswa. Selain itu, masalah teknis yang umum membuatnya sulit dikelola oleh tim IT. “Mengelola lingkungan Windows memiliki banyak tantangan, sampai-sampai tiap tahun saya harus mempekerjakan staf sementara agar perangkatnya siap digunakan,” kata Kuzmicz. Karena banyak siswa penyandang disabilitas berbasis bahasa yang mengalami kesulitan dengan strategi membaca dan menulis tradisional, Carroll School ingin menyediakan teknologi intuitif yang akan membantu siswa berkembang di kelas. Ketika mempertimbangkan solusi yang lebih baik bagi siswanya, sekolah menyadari bahwa perangkat layar sentuh akan lebih mudah digunakan oleh semua siswa, khususnya siswa yang masih sangat muda.

Pada tahun 2014, Kuzmicz bermitra dengan beberapa departemen di dalam sekolah, termasuk tim Cognitive Intervention and Research serta tim Administration, untuk menemukan solusi yang paling sesuai bagi kebutuhan unik Carroll School. “Kami memilih Google Workspace untuk Pendidikan, Chromebook layar sentuh, dan Google Kelas karena memberikan jenis pengalaman yang diperlukan siswa kami,” kata Kuzmicz. Semua siswa kini menggunakan Chromebook layar sentuh di dalam kelas untuk tugas sehari-hari dan mengerjakan ujian. Chromebook telah menjadi sangat populer, sehingga tahun ini para pengajar di Carrol School melakukan uji coba dengan 40 perangkat, dengan rencana agar Chromebook digunakan di dalam kelas oleh seluruh pengajar mereka yang berjumlah 100 orang.

SMP Lazuardi Al-Falah – Indonesia

Logo Lazuardi Al Falah School

Latar belakang

Sekolah Lazuardi Al-Falah terletak di Depok, Indonesia Lazuardi Al-Falah adalah Sekolah Islam yang berwawasan Global yang mengedepankan pemahaman mengenai perbedaan dalam banyak hal dan pentingnya toleransi. Menyediakan program dan kurikulum sekolah mulai dari SD hingga SMP.

Meski SMP Lazuardi Al-Falah telah mengenal Google for Education sejak tahun 2019, sekolah mereka baru menggunakan fitur pembelajaran daring dari Google for Education pada tahun 2020, setelah pemerintah mengimplementasikan pembelajaran jarak jauh di seluruh Indonesia. Sebelumnya, mereka hanya menggunakan Google Docs untuk kepentingan rapat atau administratif, dan belum memanfaatkan Google Slides and Google Classroom untuk kepentingan belajar-mengajar maupun untuk kegiatan sehari-hari.

Ketika pandemi datang di tahun 2020, Wakil Kepala Sekolah dan Guru Bahasa Indonesia, Febriyandini Kumala, atau yang biasa disapa sebagai Bu Andri, berinisiatif untuk melatih pengajar lain mengenai cara penggunaan teknologi Google Workspace for Education. Sebagai pemimpin Google Educator Group (GEG) dan instruktur di program Guru Penggerak, keahlian Bu Andri sangat dibutuhkan untuk membantu guru lain dalam menyesuaikan metode pengajaran mereka dengan pembelajaran jarak jauh.

Tantangan

Sebagian pengajar dan siswa tinggal di daerah pedesaan, membuat pembelajaran jarak jauh harus dilangsungkan dengan kuota yang rendah. Untuk menghemat kuota dan menghindari gangguan teknis, pengajar melakukan kelas secara sinkronus di Google Meet tanpa menggunakan kamera. Sayangnya, beberapa siswa merasa pembelajaran menjadi kurang menarik, sehingga banyak dari mereka yang keluar dari kelas daring atau terdistraksi saat pelajaran berlangsung.

Para pengajar kemudian menyadari bahwa pemberian materi pembelajaran seperti yang biasa mereka lakukan di sekolah sudah tidak efektif lagi. Mereka harus menemukan cara baru agar siswa lebih terlibat di setiap kegiatan belajar mengajar.

Solusi

Mengetahui hal tersebut, Bu Andri mulai membantu para pengajar dan siswa dalam penggunaan cara belajar yang baru. Dengan pengetahuan yang dimilikinya sebagai pemimpin GEG, Bu Andri menemukan cara kreatif dalam menggunakan kuota rendah untuk membuat pembelajaran lebih menarik bagi siswa, dibantu dengan teknologi Google for Education — dan mengajarkan cara tersebut kepada rekan pengajar lainnya.

Kolaborasi secara real-time

Google Workspace for Education telah membantu pengajar melihat cara baru dalam pemberian tugas, dari yang awalnya berbasis tulisan atau konvensional, menjadi penugasan portofolio dengan penilaian berbasis kompetensi.

Contohnya adalah ketika pengajar mulai menggunakan Google Docs, Google Sheets, dan Google Slides untuk pekerjaan kelompok — seperti yang dilakukan oleh Bu Andri di kelas dramanya. Siswa menulis skrip secara bersamaan di Google Docs, lalu merekam percakapan mereka lewat Google Meet, dan mempresentasikan drama tersebut menggunakan Google Slide.

“Para siswa dapat mengerjakan tugas kelompok dengan sangat baik, meskipun mereka tidak bertemu secara langsung,” ucap Bu Andri.

Inovasi dalam berinteraksi saat mengajar

Salah satu cara pengajar meningkatkan keterlibatan siswa di kelas yaitu dengan menggunakan Google Jamboard. Pengajar secara kreatif memanfaatkan teknologi tersebut untuk menjelaskan pelajaran dengan konsep yang rumit. Selayaknya papan tulis berbentuk daring, kini pengajar dapat menggunakan Google Jamboard untuk memberikan penjelasan secara detail sambil mencontohkannya lewat gambar dan foto.

35 pengajar di SMP Lazuardi kini menggunakan teknologi Google Workspace for Education di semua kelas, termasuk untuk mata pelajaran olahraga dan seni. Dengan menggunakan teknologi Google Workspace for Education, Bu Andri dan SMP Lazuardi telah mendorong dan memfasilitasi siswa untuk melihat cara baru untuk belajar.

“Saya tidak masalah (menjalankan pembelajaran jarak jauh). Google Workspace for Education telah membantu saya untuk berkomunikasi dengan teman sekolah dan pengajar dari rumah,” ungkap Alif Atanoval, salah satu murid Bu Andri di kelas 8. Bu Andri juga mengatakan bahwa penerimaan nilai tugas dan revisi jadi lebih mudah dibandingkan sebelumnya.

Mempersiapkan sekolah untuk masa depan

Selain memberikan manfaat untuk kegiatan di sekolah, Google for Education juga telah menghubungkan 15 sekolah Lazuardi lainnya yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

“Ini merupakan sesuatu yang sangat mengejutkan, karena ternyata dampaknya sangat positif,” ujar Bu Andri.

Kini para siswa dapat berkolaborasi dengan siswa lainnya dari berbagai kota dan berbagi ilmu mengenai topik-topik dalam pelajaran. Saat siswa diperbolehkan untuk kembali masuk ke sekolah nanti, SMP Lazuardi berencana untuk menggunakan Google Workspace for Education untuk mengintegrasikan pembelajaran jarak jauh dengan pembelajaran tatap muka.

Ringkasan

Bu Andri melihat sekolah bukan hanya sebagai tempat bagi siswa untuk belajar. Sekarang, dengan bantuan teknologi, tujuan dari sekolah tidak hanya berubah, tetapi juga semakin meningkat. Beliau menyampaikan: “Kami masih memberikan pelajaran yang sama, namun kini kami menggunakan cara yang lebih mudah dan efektif.”

Tidak hanya siswa yang semakin terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar, tetapi para guru juga menjadi semakin memahami penggunaan teknologi untuk edukasi, mendorong mereka untuk terus belajar, serta memberdayakan teknologi guna meningkatkan cara mengajar di masa depan.

Solusi Google for Education untuk Instansi dan Sekolah Anda

Pemanfaatan Google for Education baik produk dan perangkat lunak nya dapat membantu sekolah dan instansi Anda untuk menjadi lebih produktif lagi dengan menyediakan solusi pembelajaran tangguh secara digital dengan infrastruktur yang baik. Semoga pemaparan studi kasus Google for Education ini dapat memberikan inspirasi dan wawasan bagi kita semua. Jika Anda membutuhkan solusi untuk penggunaan produk Google for Education. Anda bisa berkonsultasi bersama Terralogiq Premier Partner Google Cloud di Indonesia. Hubungi kami melalui email halo@terralogiq.com atau klik disini.

Author Profile

Albi Panatagama

Marketing and Public Relations Terralogiq Premier Partner Google Maps Platform

|

Share this post on

Related Article

Leave a Reply

Name

Email

Comments