Kenali Konsep Merdeka Belajar Beserta Asal-Usulnya

1 September 2022

Program penting yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah pendidikan yang merdeka. Pendidikan ini tidak hanya mengembangkan para peserta didik, tetapi juga membuat mereka lebih bebas berkarya dan berinovasi. Ingin tahu lebih lanjut apa itu merdeka belajar? Simak pembahasan berikut!

Kenali Konsep Merdeka Belajar Beserta Asal-Usulnya

Apa itu Konsep Merdeka Belajar?

Konsep merdeka belajar merupakan sebuah pendidikan yang berfokus pada asas kemerdekaan. Merdeka disini berarti memberi kebebasan bagi setiap manusia baik para peserta didik maupun pengajar memiliki kebebasan masing-masing dalam memilih topik, metode, dan alat pembelajaran sesuai keinginan siswa. Karena di zaman yang modern ini, ilmu tidak hanya bersumber dari guru atau sebatas ruang kelas. Tetapi bisa juga dari luar kelas seperti media online, internet, perpustakaan, dan lain-lain. Konsep ini terdiri atas tiga komponen yaitu mandiri dalam menentukan pilihan cara belajar, dan melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar. Konsep ini diadaptasi dari pandangan Ki Hajar Dewantara.

Filosofi Ki Hajar Dewantara: Kemerdekaan dalam Belajar

Ki Hajar Dewantara atau yang sering kita kenal dengan sebutan Bapak Pendidikan Nasional berpandangan bahwa sistem pendidikan harus berdasarkan asas kemerdekaan. Kemerdekaan disini berarti setiap manusia diberikan kebebasan dari Tuhan Yang Maha Esa dalam mengatur hidupnya agar sejalan dengan aturan yang ada di masyarakat. Oleh sebab itu, diharapkan setiap peserta didik menanamkan jiwa merdeka di dalam dirinya. Merdeka yang dimaksud adalah secara lahir dan batin tenaganya.

Konsep Merdeka Belajar berfokus pada menerapkan materi yang esensial dan fleksibel sesuai dengan minat, bakat, kebutuhan, dan karakteristik masing-masing siswa. Sesuai dengan pandangannya, Ki Hajar Dewantara juga menerapkan sistem among. Sistem ini melarang adanya hukuman dan paksaan kepada siswa. Ki Hajar Dewantara beranggapan bahwa jika adanya hukuman dan paksaan, maka dapat mematikan jiwa merdeka dan kreativitasnya. Diperlukan jiwa yang merdeka di dalam setiap diri siswa agar Indonesia dapat maju.

Baca juga: Simak 5 Manfaat TIK dalam Bidang Pendidikan

Hubungan Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan Pembukaan UUD 1945

Pandangan Ki Hajar Dewantara mengenai hal ini ternyata selaras dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan bangsa. Maksud dari mencerdaskan bangsa disini adalah Pemerintah Negara Indonesia harus membuat dan menyesuaikan sistem pendidikan dengan kebutuhan hidup dan penghidupan rakyat Indonesia secara keseluruhan, bukan hanya individu. 

Ki Hajar Dewantara juga berpandangan bahwa keluarga, perguruan, dan masyarakat merupakan satu kesatuan yang utuh dalam pendidikan, yaitu trikonsentris pendidikan.

Dikarenakan berbagai buah pemikirannya ini, Ki Hajar Dewantara akhirnya dikenal dengan Bapak Pendidikan Nasional. Beliau sangat berjasa dalam tidak hanya kemajuan pendidikan, melainkan juga kemajuan pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Namun, proses ini harus didahului dengan menerapkan esensi kemerdekaan berpikir oleh para guru sebelum mengajarkannya kepada para siswa. Melalui konsep merdeka, proses pengajaran diharapkan dapat berdampak baik dalam berbagai aspek kehidupan baik fisik, mental, jasmani, maupun kerohanian. Esensi kemerdekaan dalam pendidikan sesuai pandangan Ki Hajar Dewantara yaitu :

  • Tidak hidup terperintah.
    Artinya dapat menentukan arah tujuan dan memerintah diri sendiri secara mandiri
  • Dengan kekuatan sendiri berdiri tegak.
    Seseorang harus mandiri dalam mencapai tujuan dengan usaha sendiri.
  • Mampu mengatur hidupnya dengan tertib.
    Hal ini berarti bahwa seseorang dapat mengatur hidup sendiri secara tertib dan terampil sesuai dengan nilai dan norma masyarakat.

Baca Juga: Bagaimana Gambaran Sekolah Masa Depan Dengan Sistem Pembelajaran Digital

Pentingnya Guru dalam Konsep Belajar Merdeka

Untuk mewujudkan program merdeka belajar, diperlukan guru yang merdeka dalam proses mengajar pula. Guru dalam melaksanakan tugasnya yaitu menuntun dan mengembangkan potensi diri siswa, harus dapat memberikan kebebasan kepada para siswa untuk mengeksplorasi bakat serta kemampuannya masing-masing. 

Namun proses didalam proses ini diperlukan bimbingan dan arahan yang tepat oleh para pendidik agar arahnya sesuai dan tidak membahayakan diri masing-masing. Proses ini diharap dapat mendorong anak menemukan kemerdekaannya dalam belajar. 

Di zaman modern ini, guru seringkali mengalami stress. Berikut beberapa penelitian terkait :

  • Berdasarkan kutipan Program Guru Belajar, menurut Johnson, guru merupakan profesi dengan tingkat stress tertinggi. 
  • Riset National Foundation for Education telah membuktikan bahwa setidaknya 1 dai 5 guru mengalami stress.
  • Pada tahun 1981, seorang peneliti bernama Pines juga menganalisa kelelahan emosi yang dijadikan respon oleh guru ketika mengalami rasa gagal dan keraguan diri yang menyebabkan guru merasa dirinya tidak berdaya.
  • Pada tahun 2017, penelitian Mojgan Karamooz dan Mehry Haddad Narafshan  tentang hubungan self regulated dengan kelelahan emosi yaitu jika semakin kompleks beban yang dimiliki seorang guru, maka secara otomatis akan mendorong untuk mengatur dirinya atau dengan kata lain guru yang dapat mengatur dirinya mampu mengurangi dampak kelelahan emosi. 

Stress yang dialami guru juga merupakan akibat dari tantangan dalam melaksanakan tugas yaitu menghadapi peserta didik dan wali dengan karakter yang beragam, tuntutan kebijakan pendidikan yang membutuhkan adaptasi, isu sosial, dan perubahan teknologi.

Baca juga: Manfaat EdTech dalam Kegiatan Pembelajaran Selama Masa Pandemi

Kurikulum Merdeka Belajar di Indonesia

Untuk itu, Indonesia menerapkan kurikulum Merdeka Belajar. Program ini merupakan kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim. Tujuan program ini yaitu membebaskan para siswa, guru, dan sekolah dari berbagai hal yang membelenggu. 

Kurikulum Merdeka Belajar di Indonesia

Empat Pokok Kebijakan Merdeka Belajar di Indonesia

Pak Nadiem Makarim mengeluarkan empat pokok kebijakan dalam mewujudkan program merdeka. Empat pokok kebijakan tersebut yaitu :

1. Mengganti Ujian Nasional (UN) dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survey Karakter

Tujuan dilakukan penggantian ini adalah untuk membebaskan para siswa dari metode belajar menghafal menjadi metode menganalisa dan bernalar. Pada AKM terdapat dua kompetensi yang diukur, yaitu literasi dan numerasi. 

Para siswa akan diuji apakah mampu memahami bahan bacaan melalui literasi. Sedangkan melalui numerasi, siswa akan diuji kemampuan dalam mengaplikasikan kemampuan berhitung dalam konteks yang abstrak dan nyata. Untuk melakukan keduanya, diperlukan daya analisa dan penalaran. 

Dengan AKM, siswa memiliki kebebasan untuk menjawab dengan kemampuan masing-masing. Hal ini merupakan salah satu inovasi dalam dunia pendidikan negara Indonesia.

Lalu dalam Survey Karakter akan diajukan pertanyaan-pertanyaan seputar Pancasila. Hal ini bertujuan untuk dapat menemukan dan menentukan seberapa jauh asas-asas Pancasila yang tertanam di dalam diri siswa. Asas-asas ini mencakup nilai gotong royong, keadilan, toleransi, kemanusiaan dan ketuhanan.

2. Pengalihan kewenangan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) kepada pihak sekolah

Dulu, kewenangan akan pelaksanaan USBN dimiliki oleh pemerintah pusat. Hal ini menyebabkan pihak sekolah tidak dapat membuat soal sendiri dan melakukan penilaian terhadap sisa secara independen dan mandiri.

Istilah yang biasa kita kenal dengan USBN yaitu berstandar nasional akan bergeser menjadi berstandar sekolah, dimana berarti ujian dilakukan dengan pertimbangan kompetensi siswa dan kearifan lokal setiap daerah.

Sehingga sekolah tidak memiliki suatu kewajiban untuk mengikuti suatu standar yang diseragamkan secara nasional. 

3. Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) oleh guru

Kata penyederhanaan mungkin terkesan mudah bagi Anda, namun nyatanya dalam praktik hal ini cukup membelenggu dan menyusahkan para pendidik. Diperlukan berbagai waktu, tenaga, dan pemikiran untuk menyusun rencana pembelajaran yang sangat banyak yang mana seharusnya diberikan kepada anak didik. Para pengajar akan merangkum rencana pembelajaran ke dalam satu lembar kertas saja melalui penyederhanaan RPP.

4. Merevisi kuota jalur prestasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dari 15% menjadi 30%

Pintu peluang akan terbuka lebar bagi para orang tua yang ingin memasukkan anaknya yang berprestasi ke sekolah-sekolah di sekolah favorit.

Baca juga: Digitalisasi Pendidikan sebagai Bagian dari Dunia Digital

Terapkan Kemerdekaan dalam Belajar Bersama Terralogiq

Terralogiq merupakan perusahaan IT terpercaya dan telah bekerja sama dengan berbagai perusahaan instansi dan intitusi pendidikan dalam memberikan berbagai solusi dan konsultasi sesuai kebutuhan Anda terkait transformasi digital. Terralogiq juga merupakan Penyedia Jasa Google For Education dan juga sebagai Google Cloud Premier Partner di Indonesia

Melalui Terralogiq, Anda dapat menumbuhkan kebebasan dalam diri siswa untuk berkreasi dan berinovasi dalam pendidikan seperti melalui aplikasi Google Classroom, Miro App, Google Meet, dan masih banyak lagi. Aplikasi-aplikasi tersebut juga bisa digunakan dalam proses pengajaran agar dapat menjadi lebih kolaboratif dan efektif.

Terutama di saat pandemi COVID-19 sekarang ini, sekolah dilaksanakan dengan metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Anda pasti memerlukan berbagai aplikasi untuk mendukung proses pembelajaran tersebut.

Tertarik menggunakan jasa kami? Hubungi kami disini  atau melalui email halo@terralogiq.com

Author Profile

Albi Panatagama

Marketing and Public Relations Terralogiq Premier Partner Google Maps Platform

|

Share this post on

Related Article

Leave a Reply

Name

Email

Comments