Era Disrupsi Pendidikan Dan Tantangannya

8 Juli 2022

Perubahan besar terjadi pada saat pandemi COVID-19. Hampir seluruh sektor terkena dampak dari pandemi, mulai dari bisnis hingga pendidikan. Perubahan yang terjadi pada sektor pendidikan saat pandemi sangatlah menonjol dan hingga saat ini masih terus melakukan perubahan masif dari segi sistem dan tatanan pendidikan agar pendidikan di Indonesia terus maju. Perubahan yang sangat besar ini disebut dengan era disrupsi pendidikan. 

Era Disrupsi Pendidikan

Era disrupsi pada sektor pendidikan dimulai dari awal pandemi muncul dan sangat berpeluang mengancam kualitas pendidikan dan dampak jangka panjang pada sektor pendidikan Indonesia. Untuk itu pemerintah pun melakukan berbagai inovasi untuk tetap memberikan pendidikan yang efektif kepada seluruh murid dan guru.

Kemendikbud melakukan kolaborasi antara guru, murid, orang tua dan juga teknologi untuk mengatasi permasalahan ini. Teknologi digital menjadi senjata utama untuk memberikan pendidikan kepada para murid tanpa harus bertatap muka di kelas. 

Tantangan Era Disrupsi Pendidikan

Penerapan pendidikan tanpa tatap muka atau lebih dikenal dengan sekolah online tidak sepenuhnya berjalan mulus dan harus menghadapi beberapa tantangan yang cukup sulit. Tantangan pertama adalah perubahan kurikulum sekolah. 

Menurut Totok Suprayitno, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud (dilansir dari Kompas.com) pembuatan kurikulum selama sekolah online harus mengikuti perkembangan zaman, yaitu guru-guru ditantang untuk menyiapkan kurikulum dimana anak-anak memiliki pemikiran antisipatif, kritis, analitis, kreatif dalam pemecahan masalah, berinovasi dan memiliki karakter yang dapat beradaptasi untuk hal-hal baru yang tak terduga. Dengan kurikulum tersebut, diharapkan para murid di kemudian hari memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi berbagai perubahan-perubahan besar. 

Tantangan kedua adalah pembelajaran. Apabila guru-guru masih hanya menyampaikan materi yang hanya tertulis di buku, maka tidak ada bedanya internet. Para murid dapat mencari sendiri informasi yang mereka inginkan secara lengkap dan mudah di internet tanpa bantuan guru. Untuk itu para guru diminta untuk terus inovatif dalam menyampaikan materi dan mengajak anak-anak unuk lebih aktif dibandingkan terus-menerus diajar oleh guru. 

Tantangan ketiga adalah mengenai pemberian tugas atau asesmen. Untuk mengetahui seberapa keberhasilan suatu sistem belajar, maka para guru harus menyiapkan tugas atau asesmen kepada para murid. Dengan sistem sekolah online, maka guru harus menciptakan sebuah sistem asesmen yang menarik dan mengajak para murid untuk berpikir kritis dan aktif mencari tahu secara mandiri dengan menggunakan internet. 

Tips Menghadapi Era Disrupsi Pendidikan Bagi Sektor Pendidikan

Sekolah menjadi garda terdepan untuk memberikan pendidikan kepada seluruh murid walaupun tidak secara tatap muka. Tentunya membuat perubahan sistem pendidikan yang baru di sekolah diperlukan persiapan yang sangat matang dan efektif. Berikut ini tips untuk menghadapi era disrupsi pendidikan:

  1. Peka terhadap informasi terbaru

Untuk menghadapi era disrupsi pendidikan, sekolah harus peka terhadap informasi terbaru dan perkembangan dunia pendidikan. Anda dapat melibatkan guru-guru untuk bergabung dengan komunitas atau pelatihan guru agar mengetahui perkembangan dunia pendidikan dan inovasi terbaru yang sekiranya cocok diterapkan disekolahan.

  1. Berani ciptakan inovasi baru

Para guru harus siap memberikan berbagai inovasi terbaru dan berani untuk menerapkannya di sekolah atau bahkan dapat digunakan sebagai bahan penelitian oleh para pendidik yang ada di Indonesia. Dengan menciptakan inovasi pendidikan yang efektif dan memiliki dampak baik, maka bisa jadi sekolahan Anda akan menjadi model sekolah bagi sekolah lainnya. 

  1. Lakukan kolaborasi

Tentunya dalam pembuatan inovasi pendidikan tidak bisa dilakukan seorang diri. Sekolah dapat melibatkan peran guru, murid dan bahkan orangtua murid untuk melakukan kolaborasi bersama untuk menciptakan inovasi pendidikan yang baik dan efektif. Contohnya adalah dengan proses belajar matematika yang digabungkan dengan seni budaya agar pembelajaran matematika yang tadinya terlihat “seram” menjadi lebih menarik, asik dan seru dipelajari. Atau dengan cara mengajak para murid untuk terlibat dalam sebuah penelitian ilmiah agar menikmati proses penelitian dengan melibatkan orangtua.

  1. Ubah pola pikir

Pola pikir dalam menghadapi era disrupsi pendidikan ini kerap kali mengambil kapasitas seseorang dalam mengambil kesimpulan dan memecahkan permasalahan. Sehingga ketika ada perubahan sistem pendidikan, guru-guru tidak mau mengikuti dan masih menggunakan cara lama untuk mengajar. Oleh karena itu, mengubah pola pikir mengikuti perkembangan zaman sangatlah penting.

  1. Memanfaatkan teknologi pendidikan 

Pemanfaatan teknologi di sektor pendidikan adalah poin utama yang bisa diterapkan oleh seluruh sekolah terutama ketika pandemi terjadi. Dengan memanfaatkan teknologi yang tepat, proses belajar mengajar tidaklah menjadi tantangan berat saat masa pandemi. Inilah yang dilakukan oleh Google Workspace for Education dan Google for Education untuk membantu sekolah dan guru. 

Pemanfaatan Google Workspace for Education 

Google Workspace for Education adalah media dan teknologi edukasi yang disediakan oleh Google untuk menunjang proses belajar-mengajar secara online. Google Workspace for Education dapat digunakan oleh seluruh sekolah di Indonesia dan apabila ingin menggunakannya di sekolahan Anda, maka Anda harus mendaftarkannya ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Google Indonesia. Prosesnya cepat dan gratis sehingga Anda bisa segera menggunakannya setelah akun dibuat. 

Google Workspace for Education terintegrasi secara otomatis dengan semua aplikasi Google yang dapat digunakan untuk proses belajar mengajar, seperti Google Classroom, Google Drive, Google Meet, Google Slides, Google Documents, Google Sheets, Google Forms dan serta banyak lagi aplikasi-aplikasi Google lainnya. Selain aplikasi-aplikasi milik Google, akun pembelajaran ini juga dapat digunakan untuk mengakses aplikasi-aplikasi lain yang mendukung kegiatan pembelajaran seperti Rumah Belajar, YouTube, Quizizz, Canva for Education serta banyak lagi aplikasi-aplikasi lainnya.

Bersama Google Workspace for Education, guru dan murid dapat saling berkolaborasi, inovasi dan kreatif dalam proses belajar mengajar. Tidak hanya proses mengajar saja, para guru pun akan sangat dimudahkan untuk pembuatan kuis, raport nilai, materi kurikulum dan lain sebagainya. Google Workspace for Education sangat aman dan sangat cocok digunakan oleh seluruh tingkat pendidikan. 

Ingin mengetahui lebih lanjut mengenai pemanfaatan Google Workspace for Education untuk institusi atau lembaga pendidikan Anda? Konsultan dari Terralogiq siap membantu, hubungi kami melalui alamat email di halo@terralogiq.com.

Author Profile

Nuritia Ramadhani

Content Manager

|

Share this post on

Related Article

Leave a Reply

Name

Email

Comments